TASBIH YANG TERTAHAN
Entah mengapa, satu masjid itu selalu mampu menghentikan perjalananku, untuk singgah beberapa saat . Mengguyur kulit yang pengap oleh debu, meletakkan kening yang sombong oleh egoku. Jika jarak dengan masjid yang ada di pinggir jalan yang cukup ramai itu masih beberapa kilo meter, maka aku sengaja mempercepat laju motor untuk cepat sampai di pelatarannya. Dan tak ingin ke masjid yang lain, walau lebih dekat atau lebih megah. Pendek kata, hatiku telah jatuh sejak di pintu gerbangnya. Dan semakin damai jika kaki menapaki lantainya yang dingin. Rasa cintaku yang kini tersimpan di hati, bermula ketika aku teledor tak membawa mukena. Yang akhirnya membuat perkenalanku dengan mukena-mukena inventaris masjid menjadi mesra. Kuambil satu mukena yang berjajar rapi diantara beberapa lainnya. Dengan keraguan yang kuakui memang norak, kucium mukena putih itu. Hidung, perut dan naluriku siap untuk mengatakan bahwa “aku harus ta...






sipp...neng !
BalasHapus